Protes Publik

14 September 2016

AC Mati & Mogok Masih Akan Mendera CL Jabodetabek

Ketidaknyamanan penumpang Commuter Line (CL) Jabodetabek utamanya selain kepadatan yang luar biasa, khususnya di jam-jam sibuk pagi dan sore hari, juga disebabkan karena matinya AC di gerbong-gerbong CL. Penyebab kerusakan AC CL utamanya disebabkan oleh naik turunnya tegangan listrik PLN di jalur CL Jabodetabek sementara stabilizer yang dibangun oleh Ditjen KA (kereta api) banyak yang dari awal tidak berfungsi dengan baik. Patut diduga akibat dikorupsi.

Turun naiknya tegangan listrik sangat berpengaruh bagi Electronic Multile Unit (EMU) yang merupakan teknologi 20 tahun lalu bahkan ada yang lebih. KRL (kereta rel listrik) yang baru-baru di dunia sudah tidak perlu mengubah arus A/C ke D/C seperti yang ada di KRL kita yang bekas dari Jepang. KRL sekarang sudah menggunakan arus listrik A/C.

Mengapa kita masih mengunakan KRL yang berteknologi lama? Karena KRL kita hampir semua beli bekas dari Jepang dengan teknologi lama yang jika rusak, suku cadangnya sudah punah dan teknisi Jepang sudah banyak yang tidak paham karena sudah lama sistem ini tidak digunakan lagi di Jepang. Sementara teknisi KCJ dan beberapa ahli dari ITB yang dikontrak oleh P.T. KAI/KCJ juga belum dapat memperbaiki EMU tersebut.

Sudah tahu komponen utamanya bermasalah, mengapa KAI/KCJ masih terus beli KRL bekas dari Jepang? Karena sangat murah. Mengapa? KRL dengan teknologi kadaluarsa ini hanya berharga sekitar Rp 900 juta/gerbong dan jika tegangan listrik di Jabodetabek bisa stabil, KRL ini masih dapat beroperasi lebih dari 20 tahun mendatang. Mengapa tidak membeli baru saja buatan P.T. INKA?

Pertanyaan lain, apakah KRL eks-Jepang itu di sananya memang sudah barang rongsokan terus dibuang ke Indonesia? Jawabannya tidak karena ketika akan dikapalkan ke Indonesia, dilakukan perbaikan total dan kebanyakan EMU-nya bekerja dengan baik karena tegangan di Jepang stabil. Kalau naik turun pun maksimal hanya 1,5% dari tegangan yang diperlukan KRL.

KRL eks-Jepang ini memerlukan listrik sebesar 1,300 volt. Listrik di Jepang stabil, tegangan akan naik turun maksimal 1,5%. Jadi kalau naik/turun tegangan hanya akan ada penambahan/pengurangan sebesar 19,5 volt atau menjadi 1.319,5 volt/1.280,5 volt. Sedangkan di Jabodetabek kalau naik bisa mencapai 1.500 volt dan kalau turun bisa mencapai 900 volt. Jadi pastilah EMU cepat jebol.

KRL buatan P.T. INKA atau baru tapi impor seharga sekitar Rp 9 – 10 milyar/gerbong. Terlalu mahal bagi P.T. KAI/KCJ karena dengan Rp 9 milyar bisa dapat sekitar sembilan gebong KRL bekas Jepang. Dengan tarif tidak sampai Rp 10.000/penumpang/naik dan tanpa subsidi pemerintah pusat dan daerah, susah buat KAI/KCJ untuk membeli KRL baru semahal itu.

Saat ini saja dari 500 lebih gerbong KRL/CL yang ada, sekitar 60 gerbong yang EMU-nya sudah dikanibal. Mau sampai kapan? Kami ikut membantu mencari jalan keluarnya, salah satunya adalah meminta bantuan teknisi dari SNCF (Perkeretaapian Perancis) untuk meneliti dan membantu menangani persoalan EMU ini. Selain itu saat ini sudah ada dua set rangkaian KRL yang rusak dan sulit diperbaiki. Artinya jumlah rangkaian KRL yang beroperasi berkurang dua saat ini.

Jadi dapat dipastikan kerusakan CL/KRL Jabodetabek akan masih terus berlangsung hingga ditemukan cara memperbaiki atau memodifikasi EMU atau PLN bisa menstabilkan tegangan di jalur CL/KRL Jabodetabek atau pemerintah menggelontorkan anggaran untuk investasi prasarana dan sarana KA.

Jika tidak ada subsidi pemerintah, persoalan EMU dan tegangan tidak terselesaikan maka supaya KAI/KCJ bisa membeli rangkaian KRL modern adalah harus menaikan tarif minimal Rp. 20 ribu/penumpang/naik. Mungkinkah? Mari kita lamunkan bersama.

 

Dipublikasikan pertama kali pada Selasa, 1 Oktober 2013


Contributor:

protes-public-profile

AP

Agus Pambagyo atau biasa dipanggil AP, beliau adalah pakar kebijakan publik dengan jam terbang lebih dari 20 tahun. Kepekaan terhadap masalah publik terasah ketika bergabung dengan YLKI dan menjadi Wakil Ketua hingga 2001 dan sebagai advokator publik hingga saat ini.

Related posts

0 comments

Leave a comment