Protes Publik

19 September 2016

Setumpuk Penyebab KRL Jabodetabek Tersendat

Berdasarkan investigasi dan pengamatan di lapangan pasca peresmian / pemberlakuan tiket elektronik 1 Juli 2013 hingga 30 September 2013, teridentifikasi beberapa penyebab terlambatnya perjalanan Kereta Rel Listrik (KRL) / Commuter Line (CL) Jabodetabek sebagai berikut:

Dari sudut prasarana (jalur, stasiun dan fasilitas yang diperlukan), yaitu:

  1. Banyaknya perlintasan sebidang di wilayah Jabodetabek yang membuat banyak penerobosan oleh pengendara kendaraan yang berakibat kecelakaan. Kecelakan di perlintasan (bukan hanya dihadapi oleh CL saja) dapat menghambat perjalanan Kereta Api (KA) termasuk CL.
  2. Banyaknya lintas yang terbuka (orang bisa masuk ke pinggir rel) atau tanpa pagar yang berakibat banyaknya bunuh diri dan pencurian prasarana kereta api, misalnya kabel sinyal, pandrol (penjepit rel), bantalan, rel dsb yang sering menjadi penyebab kecelakaan atau perjalanan KA terlambat/terganggu.
  3. Emplasemen stasiun kurang panjang sehingga CL tidak dapat menambah rangkaian lebih dari delapan. Beberapa stasiun sedang ditambah panjang emplasemennya. Panjang empalsemen harus standar dan diharapkan bisa menampung 12 gerbong KA dalam satu rangkaian. Sehingga dapat mengangkut lebih banyak penumpang.
  4. Wesel yang ada juga tidak memungkinkan peningkatan daya angkut CL sampai 12 gerbong. Diperlukan modifikasi yang cukup mahal biayanya.
  5. Masih bercampurnya jalur KA jarak jauh dan KA lokalan dengan CL Jabodetabek membuat kepadatan sangat tinggi pada jam-jam tertentu.

Dari sudut sarana (rangkaian kereta):

  1. Terbatasnya rangkaian kereta CL (hanya delapan gerbong per rangkaian) menyebabkan kenaikan jumlah penumpang hingga 30% pasca diberikannya subsidi oleh Pemerintah, tidak bisa diangkut dengan nyaman. Peningkatan jumlah penumpang berakibat proses penaikan dan penurunan penumpang membutuhkan waktu lebih lama.
  2. Tidak sabarnya penumpang untuk menunggu CL berikutnya membuat kereta menjadi super padat dan proses penutupan pintu kereta menjadi bertambah lama karena tanpa pintu tertutup, KA dilarang jalan. Makin lama pintu tertutup maka keterlambatan CL akan semakin tinggi.
  3. Tingginya frekuensi kerusakan rangkaian CL akibat antara lain tegangan listrik PLN yang turun naik secara drastis membuat EMU (Electronic Multiple Unit/otak dari listrik KRL) rusak dan kerusakan ini belum bisa diatasi oleh teknisi KCJ dan para ahli di perguruan tinggi (ITB), P.T. INKA dll. Kerusakan EMU bisa menyebabkan persoalan dimulai AC mati sampai KA mogok total.
  4. Mogoknya satu rangkaian CL akan mengakibatkan keterlambatan beberapa rangkaian CL lainnya dan bahkan KA jarak jauh maupun KA lokalan.

 


Contributor:

protes-public-profile

AP

Agus Pambagyo atau biasa dipanggil AP, beliau adalah pakar kebijakan publik dengan jam terbang lebih dari 20 tahun. Kepekaan terhadap masalah publik terasah ketika bergabung dengan YLKI dan menjadi Wakil Ketua hingga 2001 dan sebagai advokator publik hingga saat ini.

Related posts

0 comments

Leave a comment