Protes Publik

19 September 2016

Gas Alam Indonesia Nan Kelam

Setelah harga minyak bumi terus melambung, kondisi ketahanan energi Indonesia semakin tidak menentu. Bayangkan dengan produksi rata-rata kurang dari 800.000 barel / hari sedangkan kebutuhan mencapai sekitar 1,6 juta barel / hari, sehingga Indonesia harus mengimpor minyak bumi dalam bentuk bahan bakar minyak (BBM) sekitar lebih dari 800.000 barel / hari untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Impor BBM umumnya dari kilang Singapura.

Sebenarnya sudah lebih dari 20 tahun Indonesia mengalami krisis energi (BBM), namun pemerintah tak kunjung membuat cetak biru terkait dengan ketahanan energi nasional. Studinya bertumpuk tetapi tak kunjung ditetapkan dan digunakan sebagai acuan oleh semua pihak. Jadi, jangan heran jika diversifikasi energi nasional, termasuk gas alam, tak berjalan. 

Cadangan gas alam Indonesia saat ini terbesar no. 6 di dunia. Nilai cadangan gas alam Indonesia saat ini sekitar 135 Trillions of Standard Cubic Feet (TSCF) dengan produksi sekitar 8.000 mmscfd / hari. Gas alam Indonesia belum digarap secara optimal oleh negara, selain hanya terus diekspor untuk menambal sisi penerimaan APBN. Akibatnya energi terbarukan, seperti biofuel, belum bisa dikembangkan dengan baik karena masih ada BBM murah bersubsidi.

Jika kondisi seperti ini terus bertahan tanpa perubahan, Indonesia akan semakin terpuruk dalam kurun waktu 10 tahun ke depan. Di saat harga minyak bumi terus meroket, biasanya harga gas juga ikut naik. Namun harga gas dunia terus turun pasca ditemukannya cadangan gas shale yang sangat besar di Amerika. Lalu bagaimana caranya mengekspor gas alam produksi Indonesia dengan harga mahal?

Saat ini Singapura membeli gas shale dari Amerika hanya sekitar USD 2-3/MMBTU. Sementara Singapura harus membayar sebesar USD 17/MMBTU sampai di tempat untuk gas alam eks Conphil Grissik Sumatera Selatan. 

Kondisi Lapangan Gas Alam Indonesia 

Kelamnya masa depan gas alam Indonesia juga dipicu oleh tidak adanya strategi penggunaan gas sebagai energi primer pengganti minyak bumi yang semakin langka dan mahal. Belum lagi tingginya semangat pemerintah untuk terus memberikan subsidi BBM dan LPG 3 kg sebesar-besarnya, memperburuk nasib bangsa ini ke depan. 

Gas alam, yang biasa diperdagangkan dalam bentuk cair atau Liquid Natural Gas (LNG) atau Compressed Natural Gas (CNG) atau Bahan Bakar Gas (BBG), harganya jauh lebih murah dari minyak bumi. LNG berbeda dengan LPG atau Liquid Petroleum Gas yang bahan dasarnya adalah minyak bumi. Kondisi tersebut diperburuk karena sebagian besar orang Indonesia tidak paham bedanya LNG dengan LPG.

Sementara itu pemerintah Indonesia juga membiarkan rakyat terus menggunakan LPG selama puluhan tahun. Kala minyak kita berlimpah, tidak masalah. Namun ketika minyak kita defisit dan harus impor, ini masalah. Sampai untuk konversi minyak tanahpun digunakan LPG 3 kg. Harusnya LPG hanya digunakan sebagai bridging atau program antara saja sebelum sepenuhnya menggunakan gas alam.

Kita kembali ke gas alam. Saat ini gas alam masih disia-siakan. Bukan hanya gasnya tetapi pengelolaannya juga diobrak-abrik oleh pemerintah yang menyebabkan negara rugi sekitar Rp 50 triliun sejak periode 22 Mei 2013 - 8 Januari 2014, akibat rencana open access jaringan pipa PGN dan bocornya hasil rapat Kementerian BUMN ke media, tentang rencana Pertamina mengakuisi P.T. PGN, Tbk. Pemberitaan tersebut memberikan ketidakpastian kepada pemegang saham publik. Fatal akibatnya.

Ketidakpastian ini turut memberikan sentimen negatif kepada pemberi fasilitas pinjaman perseroan dan lembaga pemeringkat hutang yang telah memberikan peringkat layak investasi kepada PGN. Nilai kekayaan negara sebagai pemegang saham utama (57%) PGN menurun sebesar Rp 29 triliun di periode tersebut. Sedangkan nilai kekayaan BPJS Tenaga Kerja (PT Jamsostek) dan badan usaha-usaha terafiliasi negara yang memiliki saham PGN menurun sebesar Rp 1,45 triliun.

Jadi kelamnya gas alam Indonesia memang tidak main-main. Apalagi saat ini Singapura sudah tidak lagi membutuhkan banyak gas dari eks ConPhil Grisik, Sumatera Selatan karena kebutuhan gas Singapura sejak tahun lalu sudah mulai dipenuhi oleh gas shale Amerika. Begitu pula dengan Korea Selatan. Jadi Indonesia akan punya banyak gas alam ketika 2 negara pengimpor menghentikan impor gas dari Indonesia.

Bisakah gas tersebut digunakan secara optimal untuk meningkatkan kapasitas industri dan ketenagalistrikan di Indonesia, sementara infrastrukturnya (pipanisasi gas) masih minim dan belum tahu kapan akan berkembang. Contohnya, Jawa Timur dengan Jawa Tengah dan Jawa Barat yang belum juga terhubung, padahal pemenang tendernya sudah lama ada.

Langkah ke Depan 

Mau tidak mau atau suka tidak suka, pemerintah harus segera membangun infrastruktur gas (pipanisasi) sepanjang mungkin dan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) sebanyak mungkin. Pipanisasi gas akan memudahkan penyedia gas untuk menyalurkan gasnya ke perumahan, industri dan SPBG sehingga dicapai optimalisasi peggunaan gas di Indonesia tercapai.

Pipanisasi menjadi sangat penting jika gas akan kita gunakan sebagai sumber energi primer pengganti BBM. Bukan terus menggunakan LPG yang mulai Juli 2014 mendatang akan naik secara berkala sebesar Rp 1.000/kg hingga harganya mencapai sekitar Rp 6.500/kg. Dengan semakin mahalnya harga LPG, maka penggunaan LPG untuk rumah tangga dan industri menjadi semakin tidak efisien dan harus dihentikan.

Cegah kemungkinan Singapura mengekpor gas shale asal Amerika ke Indonesia karena harganya lebih murah dari gas alam Indonesia. Singapura sudah membangun tangki penyimpanan gas raksasa dan siap-siap akan mengekpor gas shale asal Amerika ke Indonesia kalau kita tak segera membenahi infrastruktur gas alam kita. 

Terakhir pastikan penggunaan atau peralihan sumber energi primer dari BBM ke gas alam dipayungi oleh peraturan perundang-undangan yang lengkap, supaya tidak terjadi kekacauan hukum di masyarakat. Tujuan akhirnya adalah gas alam Indonesia cemerlang untuk Indonesia yang gilang gemilang.

Dipublikasikan pertama kali pada Senin, 17 Februari 2014 di http://news.detik.com/kolom/2499203/gas-alam-indonesia-nan-kelam


Contributor:

protes-public-profile

AP

Agus Pambagyo atau biasa dipanggil AP, beliau adalah pakar kebijakan publik dengan jam terbang lebih dari 20 tahun. Kepekaan terhadap masalah publik terasah ketika bergabung dengan YLKI dan menjadi Wakil Ketua hingga 2001 dan sebagai advokator publik hingga saat ini.

Related posts

0 comments

Leave a comment