Protes Publik

3 October 2016

BPJS Kesehatan, Solusi Pasti Bagi Masyarakat

Tidak adanya asuransi mana pun yang bisa menyaingi pelayanan yang diberikan oleh BPJS Kesehatan hingga saat ini, adalah sebuah fakta yang tak dapat dipungkiri. Atas dasar itulah, kini semakin banyak dokter yang ingin bergabung dengan BPJS Kesehatan. Rumah sakit pun semakin banyak yang membuka pelayanan bagi peserta BPJS Kesehatan. Premi yang murah dan terjangkau, jaminan pembiayaan terhadap semua jenis penyakit, serta tidak terbatasnya usia kepesertaan, membuat BPJS Kesehatan menjadi sebuah solusi yang pasti bagi masyarakat.

“Bisa dibandingkan sebelum dan sesudah ada BPJS Kesehatan. Perbedaannya sangat jauh. Dulu, banyak pasien umum yang tidak mampu bayar, meminta tolong kepada pejabat untuk meringankan biaya. Atau bahkan minta digratiskan karena memang tidak mampu bayar. Tetapi sekarang, tidak lagi seperti itu,” ujar dr. Nirwan Satria, SpAn, baru-baru ini.

Dokter anestesi yang bertugas di RS Sorulangun, Jambi, tersebut mengakui bahwa pola pembiayaan kesehatan melalui BPJS Kesehatan membuat dokter seperti dirinya merasa nyaman dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya menolong masyarakat. Bahkan Nirwan mengakui, dari sisi kepuasan materi, tidak hanya masyarakat yang merasakan dampak positif BPJS Kesehatan. ”Sebagai dokter, kami juga merasakan kepuasan materi yang setimpal,” ungkapnya.

Di tempatnya bertugas, Nirwan mengatakan dirinya bisa menerima bagian yang diatur oleh pihak rumah sakit berdasarkan keputusan bersama komite medis dan kepala ruangan. Keputusan itu sendiri mengatur tentang pola tanggung jawab dan kompensasi yang pasti sesuai ketentuan Kementerian Kesehatan.

RSUD Sarolangun adalah rumah sakit tipe C berbentuk Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). Dengan status tersebut, jasa pelayanan rumah sakit ditentukan tidak boleh melebihi 44% pendapatan rumah sakit. Jasa tersebut dibagi secara proporsional oleh pihak rumah sakit untuk seluruh bagian, mulai dari manajemen dan komponen yang mendukung pelayanan hingga pekerja di struktur organisasi terbawah, seperti tenaga keamanan dan cleaning service.

Nirwan mengatakan, sejak digulirkannya program Jaminan Kesehatan nasional (JKN), pendapatan rumah sakit meningkat 3 – 5 kali lipat dibandingkan sebelumnya. Kondisi tersebut memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap kualitas pelayanan yang diberikan kepada pasien.

”Komitmen dan transparansi manajemen rumah sakit menjadi kunci sukses dalam mengimplementasikan program JKN di RS. Kalau ada kekurangan, itu harus kita selesaikan bersama, sehingga program ini bisa berjalan dengan baik,” pungkasnya.

Dia menegaskan, dengan standar dan ketentuan yang pasti, rumah sakit yang melayani peserta BPJS Kesehatan dipastikan tidak akan merugi. ”Jaminan kesehatan oleh BPJS Kesehatan ini benar-benar memberi kepastian pembiayaan kesehatan. Rumah sakit tidak perlu tunggu anggaran untuk beli obat, karena sebagian sudah dibayarkan di depan oleh BPJS Kesehatan. Bahkan, rumah sakit bisa memperkirakan pendapatannya di depan,” katanya.

Dorong RS Tumbuh

Program JKN  tidak sekedar memberikan jaminan kesehatan yang komprehensif kepada masyarakat. Program ini juga membuat rumah sakit yang menjadi penyedia BPJS Kesehatan semakin bertumbuh, baik itu rumah sakit pemerintah maupun swasta. Rumah Sakit Pelni Jakarta menjadi salah satu bukti nyata hal tersebut. RS Pelni Jakarta berhasil meningkatkan fasilitas layanan kesehatan dengan penambahan berbagai teknologi mutakhir. Bahkan sejak itu pula, nilai jasa medis untuk para dokternya meningkat hingga 45%. Sementara di sisi lain, gaji yang diterima karyawan RS Pelni juga mengalami peningkatan hingga 13%.

”Kami sangat meyakini kalau program JKN ini bisa menyelesaikan masalah penanganan kesehatan di Indonesia. Selain itu juga dapat membuka akses yang luas bagi masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik,” kata Direktur Utama RS Pelni, Dr. dr. Fathema Djan Rachmat, Sp.B, Sp.BTKV (K).

Untuk diketahui, RS Pelni menjadi provider BPJS Kesehatan sejak kali pertama Program JKN digulirkan, 1 Januari 2014. Bahkan, sebagai komitmen dukungan terhadap program, jauh hari sebelum program tersebut diimplementasikan, rumah sakit yang beralamat di Jalan Aipda KS Tubun 92 - 94, Jakarta tersebut telah melakukan berbagai langkah persiapan dan antisipasi. Salah satunya adalah mensosialisasikan program tersebut kepada para dokter dan seluruh komponen di rumah sakit. ”Sehingga pada hari H, kami diharapkan bisa memberikan pelayanan yang terbaik kepada pasien BPJS Kesehatan,” imbuhnya.

Kendati antisipasi telah dilakukan, RS Pelni tetap sempat kewalahan dengan jumlah pasien yang membludak saat mulai menerima pasien BPJS Kesehatan. Bahkan, ketika itu proses administrasi untuk satu pasien bisa memakan waktu hingga satu jam. Namun manajemen RS Pelni dengan sigap langsung melakukan berbagai perbaikan. Kini, dengan membuka 21 titik pelayanan pasien BPJS Kesehatan, layanan registrasi hanya memakan waktu 3 - 5 menit bagi setiap pasien.

“Untuk mempercepat proses registrasi, kemampuan SDM-nya kita tingkatkan. Kita juga memakai sistem antrean dan tentunya didukung oleh IT atau e-Medical Record. Para manajer rumah sakit pun harus turun langsung ke lapangan untuk memastikan proses antrian berjalan lancar,” paparnya.

Dokter Fathema menambahkan, saat ini  tak kurang dari 1500 kegiatan yang dilakukan RS Pelni per harinya. Dari total pasien rawat jalan, sebanyak 60% pasien merupakan pasien BPJS Kesehatan. Sedangkan untuk pasien BPJS Kesehatan yang dirawat inap, mencapai hingga 80%.

“Sistem prospective payment memberi keuntungan yang adil dan merata bagi pasien, tenaga medis, dan juga rumah sakit. Dengan pengelolaan yang benar, RS Pelni bisa memperoleh surplus lewat pembiayaan bertarif INA-CBGs, sehingga pasien merasa puas karena terlayani dengan baik, rumah sakit pun mendapatkan keuntungan,” tutupnya. (DS)

Dipublikasikan pertama kali pada, Jumat 30 Oktober 2016


Contributor:

protes-public-profile

TimProtesPublik

Tim Protes Publik berdiri sejak 17 Agustus 2011 terdiri dari beberapa individu yang tertarik terhadap kebijakan publik yang berlaku di Indonesia. 

Related posts

0 comments

Leave a comment