Protes Publik

19 June 2017

Sambut Lebaran, Belanja Online Aman

Dua minggu sebelum Lebaran adalah saat-saat dimana mulai terjadi peningkatan belanja masyarakat karena Tunjangan Hari Raya (THR) sudah mulai diterima, terutama bagi para pekerja di sektor swasta. Apabila lima tahun yang lalu masyarakat masih memadati pusat-pusat perbelanjaan konvensional untuk berbelanja, namun seiring dengan meningkatnya jumlah pengguna internet di Indonesia yang mencapai 100,1 juta orang di akhir 2016, membawa pula perilaku belanja masyarakat ke arah belanja online (e-commerce). Bahkan Indonesia tercatat menjadi salah satu raksasa e-commerce di Asia Pasifik dengan total belanja/transaksi online selama tahun 2016 mencapai USD 4,89 miliar, atau setara dengan Rp 68 triliun (Data Menkominfo, 2017).

Bulan Ramadan seperti biasa adalah salah satu periode puncak dari transaksi belanja online, bahkan jumlahnya diprediksi akan meningkat sampai 100% dibandingkan dengan hari-hari biasa. Menurut Co-Founder dan CFO Bukalapak, Muhammad Fajrin Rasyid, misalnya, pada minggu pertama puasa telah terjadi kenaikan transaksi di bukalapak dot com hingga 30% dibandingkan hari normal di luar Ramadan, dan mungkin bisa menjadi 50 persen atau 100 persen pada dua minggu sebelum lebaran.

Perilaku masyarakat kita dalam memanfaatkan uang THR untuk berbelanja lebaran ini sejalan dengan survei yang dilakukan oleh salah satu marketplace lainnya yaitu Shopback Indonesia yang mensurvei 300 sampel user Shopback di lima kota besar di Indonesia yakni Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan dan Makassar. Sebagian besar responden menyatakan akan menambah pengeluaran mereka untuk berbelanja lebaran. 52,20% responden akan menggunakan dana dari Tunjangan Hari Raya (THR) untuk keperluan tersebut. Sebagian lagi (23,90%) merencanakan akan mengambil dana yang tersimpan di tabungan atau mengambil dari gaji (23,90%). Bahkan pengeluaran yang disiapkan untuk belanja lebaran oleh sebagian besar responden pun cukup besar berada pada kisaran Rp 500 ribu hingga Rp lima juta. Tak hanya itu, budaya Lebaran menggunakan pakaian barupun tercermin pada survei yang menyebutkan bahwa 81,9% responden berminat berbelanja produk fashion.  

Dengan data perilaku dan nilai belanja online di Indonesia yang begitu menggiurkan dan potensial tersebut, terselip fakta yang mengejutkan bahwa Indonesia adalah negara dengan tingkat penipuan online tertinggi di dunia, disusul oleh Vietnam dan India (survei oleh perusahaan keamanan online Kaspersky Lab dan B2B International). Beberapa bentuk penipuan online yang sering terjadi diantaranya ketidaksesuaian jenis dan kualitas barang yang dijanjikan, ketidaktepatan waktu pengiriman barang dan keamanan transaksi adalah yang paling banyak terjadi (sudah membayar tapi barang tak kunjung datang, pencurian data/nomor kartu kredit, dll).

Dari sisi pemerintah dalam mengatasi maraknya penipuan online tersebut sudah dilakukan dengan mengeluarkan peraturan terkait perdagangan dengan sistem elektronik dalam Undang-undang No. 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan. Secara detail terkait sanksi pidananya diatur pada pasal 115 UU:

“Setiap Pelaku Usaha yang memperdagangkan Barang dan/atau Jasa dengan menggunakan sistem elektronik yang tidak sesuai dengan data dan/atau informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 65 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 12.000.000.000,00 (dua belas miliar rupiah).”

Begitu pula dari sisi konsumen, sudah seharusnya kita membekali diri dengan berbagai informasi dan pengetahuan dasar transaksi belanja online agar praktik penipuan tidak perlu terjadi.

Simak beberapa tips di bawah ini agar belanja lebaran anda lancar dan aman


Contributor:

protes-public-profile

pratita

Pratita, praktisi komunikasi yang memiliki ketertarikan khusus untuk edukasi publik khususnya terkait dengan pendidikan perempuan dan kesehatan masyarakat.

Related posts

0 comments

Leave a comment