Timnas Argentina mengkhawatirkan sikap Real Madrid yang dirasa telah abaikan pemain muda berbakat mereka, Franco Mastantuono, jelang Piala Dunia 2026.
Apa yang semula dianggap sebagai awal yang menjanjikan bagi Franco Mastantuono di Real Madrid, kini telah berubah menjadi periode ketidakpastian.
Hal ini membuat Argentina dan banyak kalangan mulai khawatir dengan situasi pemain berusia 18 tahun itu. Demikian diberitakan Mundo Deportivo.
Saat ini, peran mantan bintang River Plate itu telah berubah drastis sejak Real Madrid diasuh Alvaro Arbeloa. Belum lama ini, ia tampak seperti salah satu pemain andalan pilihan sang pelatih, tapi sekarang ia hampir tak pernah bermain.
Makin Minim Waktu Bermain Bersama Arbeloa
Kekhawatiran itu bukan hanya tentang menit bermain yang dikantonginya di Real Madrid, tetapi juga tentang waktu. Finalissima (pertandingan resmi antara juara Piala Eropa (Euro) dan juara Copa America) – Argentina kontra Spanyol, yang dijadwalkan pada 27 Maret, dan ajang Piala Dunia yang akan digelar di bulan Juni 2026.
Bagi pemain yang berharap akan menjadi bagian dari skuad Timnas Argentina di kedua event tersebut, ritme dan visibilitas sang pemain tentunya menjadi segalanya.
Penurunan performa Mastantuono dianggap terjadi sangat tiba-tiba. Mastantuono hanya lebih sering bermain di laga-laga awal Arbeloa menjadi pelatih Los Blancos. Bahkan, di enam pertandingan pertama bersama pelatih berusia 43 tahun itu, Mastantuono telah menjadi starter lima kali.
Ia juga berhasil mencetak gol dan secara konsisten bermain lebih dari 70 menit per pertandingannya. Di tahap itu, tampaknya gelandang berpostur tubuh 1,78 meter itu telah temukan stabilitas di lini tengah Madrid yang kompetitif. Namun, kemudian, semuanya menjadi berubah.
Perubahan Mendadak Mastantuono
Sejak laga kontra Rayo Vallecano, kehadiran Mastantuono di lapangan terus memudar. Ia kemudian masuk di menit ke-82 saat Madrid bertemu Valencia, bahkan tak bermain melawan Real Sociedad, Benfica di ajang Liga Champions, atau Osasuna – di laga terakhir.
Mastantuono bahkan hanya bermain selama 13 menit di empat pertandingan. Bagi seorang pemain yang sebelumnya menjadi starter secara reguler, statistik itu saja menjelaskan kecemasan yang berkembang di negara asalnya.
Di Argentina, hal ini dipandang lebih dari sekadar rotasi biasa. Ada perasaan bahwa Mastantuono telah tergeser dari hirarki internal di saat yang paling buruk.
Bisa dimengerti, jadwal padat Real Madrid biasanya akan membuka kesempatan bagi pemain cadangan. Sebaliknya, jalannya kini menjadi lebih sempit.
Mastantuono akan Dipinjamkan ke Klub Lain?
Masih menurut Mundo Deportivo, ikon River Plate, Norberto Alonso, beri penilaian yang sangat jujur tentang situasi yang tengah dialami Mastantuono.
“Mereka membunuhnya. Tahukah kamu kenapa? Kurasa anak itu akan berakhir di tim level bawah. Lalu, dia mungkin akan kembali ke Real, tapi pertama-tama harus membuktikan bahwa dia siap untuk membela klub itu,” tandas Alonso.
Kata-kata itu barangkali terdengar kasar, tapi menunjukkan ketakutan yang mendalam. Di Real Madrid, seorang pemain muda harus bersabar dan beradaptasi dengan cepat, atau berisiko dipinjamkan ke klub lain untuk membangun kembali kepercayaan diri dan kontinuitasnya.