Barcelona berada di ujung tanduk dalam upaya mempertahankan gelar Copa del Rey setelah dihajar Atlético Madrid 0-4 pada leg pertama semifinal yang digelar di Metropolitano, Kamis waktu setempat. Kekalahan telak itu membuat langkah Blaugrana menuju final sangat terjal, terlebih performa buruk di babak pertama dan keputusan kontroversial di paruh kedua benar-benar menghancurkan peluang mereka untuk bangkit.
Atlético tampil efektif dan disiplin sepanjang pertandingan. Sementara itu, Barcelona justru terlihat rapuh di hampir semua lini. Hasil ini membuat tim asuhan Hansi Flick harus mengejar defisit besar pada leg kedua jika masih ingin menjaga asa mempertahankan trofi.
Babak Pertama yang Sulit Dipercaya
Penampilan Barcelona di 45 menit pertama bisa disebut sebagai bencana. Lini belakang tampil ceroboh, para pemain kerap terpeleset, serangan kehilangan ide, dan hampir semua pemain tampil di bawah standar.
Atlético sudah memimpin 4-0 saat turun minum. Namun skor itu bahkan belum sepenuhnya menggambarkan dominasi tuan rumah. Tim asuhan Diego Simeone menerapkan rencana sederhana yang berjalan sempurna: menyerang di belakang Alejandro Balde, mengalihkan bola ke sisi berlawanan, lalu mengirim pemain yang datang dari lini kedua ke dalam kotak penalti. Skema tersebut berulang kali membongkar pertahanan Barcelona.
Gol pertama tercipta lewat situasi yang ganjil. Joan Garcia gagal mengontrol umpan dari Eric Garcia dan tak mampu mencegah bola melewati garis gawang. Tiga gol berikutnya lahir dari pola serangan yang sama efektifnya. Antoine Griezmann, Ademola Lookman, dan Julián Alvarez mendapatkan ruang dan waktu yang terlalu leluasa sebelum menuntaskan peluang dengan baik.
Hansi Flick bahkan tak menunggu turun minum untuk bereaksi. Pada menit ke-37, ia menarik keluar Marc Casadó dan memasukkan Robert Lewandowski. Namun perubahan itu tidak memperbaiki kebuntuan serangan dan justru membuat lini belakang semakin terbuka. Frenkie de Jong menjalani salah satu babak terburuknya musim ini, sementara empat bek Barcelona dengan mudah dilewati dalam berbagai situasi.
Di tengah situasi sulit tersebut, Fermín López menjadi satu-satunya pemain yang mendekati performa positif. Ia sempat membentur mistar gawang dan menyia-nyiakan peluang satu lawan satu, tetapi rekan-rekannya gagal memberi dukungan berarti sepanjang babak pertama.
Harapan yang Dipatahkan VAR
Barcelona memulai babak kedua dengan kebutuhan mendesak untuk mencetak gol cepat. Peluang itu sempat datang lima menit setelah jeda melalui skema tendangan bebas. Tembakan Fermín membentur Robert Lewandowski dan bola liar jatuh ke kaki Pau Cubarsí, yang langsung menyambar untuk mencetak gol.
Gol tersebut sempat membangkitkan semangat tim tamu. Namun harapan itu runtuh akibat keputusan yang memicu kontroversi. VAR melakukan peninjauan selama delapan menit dan akhirnya menyatakan Cubarsí berada dalam posisi offside. Tayangan ulang serta garis offside tidak menunjukkan bukti jelas pelanggaran, tetapi keputusan tetap diambil dan gol dianulir.
Momen itu mematikan momentum Barcelona. Setelahnya, mereka kesulitan menciptakan ancaman berarti ke pertahanan Atlético. Situasi semakin buruk ketika Eric Garcia menerima kartu merah akibat tekel yang tidak perlu, membuat upaya bangkit kian mustahil.
Langkah Berat Menuju Leg Kedua
Hasil pertandingan ini menjadi malam yang sangat mengecewakan bagi Barcelona. Mereka tampil jauh di bawah standar, sementara Atlético memaksimalkan setiap kelemahan lawan dan layak memenangi pertandingan pertama.
Dengan defisit empat gol, peluang Barcelona untuk lolos ke final praktis menipis. Mereka membutuhkan performa luar biasa pada leg kedua dalam tiga pekan mendatang untuk membalikkan keadaan dan menjaga harapan mempertahankan gelar Copa del Rey.